Ketika Pekerjaan Berubah, Apakah Kompetensi Kita Masih Relevan?

Ada pekerjaan yang hari ini terlihat sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.

Bukan berarti profesinya hilang. Justru pekerjaannya tetap ada, tetapi cara mengerjakannya berubah.

Seorang staf administrasi, misalnya, mungkin sekarang tidak hanya mengurus dokumen. Ia bisa berhadapan dengan sistem digital, database, spreadsheet, aplikasi kolaborasi, sampai proses pelaporan yang semakin terintegrasi.

Begitu juga dengan marketing. Pekerjaan pemasaran tidak lagi hanya berkaitan dengan membuat materi promosi. Ada data pelanggan, analisis performa, CRM, otomatisasi, digital campaign, dan berbagai platform yang perlu dipahami.

Perubahan seperti ini menimbulkan satu pertanyaan penting:

Kalau pekerjaan berubah, apakah kompetensi kita ikut berubah?

Pertanyaan tersebut penting karena memiliki pengalaman kerja yang panjang tidak selalu berarti seseorang memiliki kompetensi yang sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan saat ini.

Pengalaman Tetap Penting, tetapi Tidak Selalu Cukup

Pengalaman memberikan sesuatu yang tidak bisa didapatkan hanya dari membaca teori.

Semakin lama seseorang berada dalam sebuah bidang, semakin banyak situasi yang mungkin sudah pernah dihadapi. Pengalaman juga membantu seseorang memahami pola masalah, cara berkomunikasi dengan rekan kerja, dan bagaimana mengambil keputusan dalam kondisi tertentu.

Namun, pengalaman bekerja dengan cara yang sama selama bertahun-tahun tidak otomatis membuat kompetensi seseorang terus berkembang.

Di sinilah perbedaannya.

Lama bekerja dan berkembang secara kompetensi adalah dua hal yang berbeda.

Seseorang bisa memiliki pengalaman bertahun-tahun, tetapi jika cara kerja, pengetahuan, dan keterampilannya tidak pernah diperbarui, sebagian kompetensinya bisa menjadi kurang relevan ketika kebutuhan pekerjaan berubah.

Karena itu, profesional tidak cukup hanya mengumpulkan pengalaman. Pengalaman tersebut juga perlu diikuti dengan proses belajar dan pembaruan kompetensi.

Perubahan Teknologi Bukan Satu-Satunya Penyebab

Ketika membicarakan perubahan kompetensi, teknologi biasanya menjadi hal pertama yang muncul.

Padahal, perubahan kebutuhan pekerjaan tidak selalu disebabkan oleh teknologi.

Perubahan dapat terjadi karena cara perusahaan melayani pelanggan berubah. Target bisnis berubah. Regulasi berubah. Struktur organisasi berubah. Bahkan pola komunikasi dengan pelanggan dan rekan kerja juga dapat berubah.

Artinya, kompetensi yang perlu diperbarui tidak selalu berupa kemampuan menggunakan software baru.

Kadang yang berubah justru cara seseorang menganalisis masalah, mengambil keputusan, bekerja sama, mengelola informasi, atau berkomunikasi dengan pihak lain.

Karena itu, melihat perkembangan kompetensi hanya dari sisi teknologi dapat membuat seseorang melewatkan perubahan lain yang juga penting.

Coba Lihat Pekerjaan dari Tanggung Jawabnya

Salah satu cara sederhana untuk mengetahui apakah kompetensi masih relevan adalah melihat kembali tanggung jawab pekerjaan.

Bukan hanya bertanya, “Apa jabatan saya sekarang?”

Tetapi juga:

“Apa yang sebenarnya dituntut dari posisi saya saat ini?”

Sebuah jabatan dapat memiliki nama yang sama, tetapi tanggung jawabnya berubah.

Seorang supervisor, misalnya, mungkin awalnya lebih banyak mengawasi pekerjaan teknis. Setelah organisasi berkembang, ia bisa dituntut membaca data kinerja, melakukan evaluasi tim, menyusun laporan, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.

Jika seseorang hanya mempertahankan kemampuan lama, ia mungkin tetap bisa menjalankan sebagian pekerjaan, tetapi akan kesulitan ketika tanggung jawabnya berkembang.

Di sinilah evaluasi kompetensi menjadi penting.

Kompetensi yang Relevan Tidak Selalu Berarti Menguasai Semuanya

Ada kecenderungan untuk menganggap bahwa agar tetap relevan, seseorang harus mempelajari semua skill baru.

Padahal, pendekatan tersebut justru dapat membuat proses pengembangan kompetensi menjadi tidak terarah.

Tidak semua orang perlu menjadi ahli data, programmer, digital marketer, designer, dan manajer sekaligus.

Yang lebih penting adalah memahami kompetensi mana yang benar-benar berhubungan dengan pekerjaan dan arah karier.

Seorang profesional dapat memilih beberapa kemampuan yang paling mendukung tanggung jawabnya, kemudian mengembangkannya secara lebih mendalam.

Pendekatan seperti ini membuat proses belajar menjadi lebih realistis.

Daripada mencoba mengikuti semua tren, lebih baik memahami kebutuhan pekerjaan terlebih dahulu.

Mulai dari Gap antara Kemampuan Sekarang dan Kebutuhan Pekerjaan

Setiap orang memiliki kemampuan yang sudah dikuasai dan kemampuan yang masih perlu dikembangkan.

Perbedaannya dapat dianggap sebagai sebuah competency gap.

Misalnya, seseorang sudah mampu mengelola data menggunakan spreadsheet, tetapi pekerjaannya mulai membutuhkan kemampuan membaca dashboard dan melakukan analisis yang lebih mendalam.

Masalahnya bukan karena orang tersebut tidak memiliki kompetensi.

Ia sudah memiliki dasar.

Namun, kebutuhan pekerjaannya sudah berkembang lebih jauh.

Dengan mengetahui gap seperti ini, proses pengembangan menjadi lebih jelas. Orang tersebut tidak perlu memulai dari nol, tetapi dapat melanjutkan kemampuan yang sudah dimiliki ke tingkat berikutnya.

Jangan Menunggu Sampai Perusahaan Meminta

Banyak profesional baru mulai belajar ketika tuntutan baru sudah datang.

Saat perusahaan mulai menggunakan sistem baru, banyak orang baru mencari tutorial.

Kebutuhan kompetensi tertentu pada posisi baru sering kali baru mendorong seseorang mengikuti pelatihan.

Begitu ingin melamar pekerjaan, sertifikasi pun baru mulai dipertimbangkan.

Cara tersebut memang masih memungkinkan.

Namun, prosesnya sering terasa lebih berat karena dilakukan dalam kondisi terburu-buru.

Pengembangan kompetensi akan lebih mudah jika dilakukan sebelum kebutuhan menjadi mendesak.

Bukan berarti seseorang harus menebak semua skill masa depan.

Cukup dengan memperhatikan arah bidang pekerjaan, perkembangan industri, serta tanggung jawab yang kemungkinan akan semakin besar.

Dari sana, seseorang dapat menentukan kemampuan mana yang layak mulai dikembangkan.

Belajar Mandiri dan Pelatihan Memiliki Peran yang Berbeda

Belajar mandiri sangat berguna untuk memahami topik baru.

Seseorang dapat membaca artikel, mengikuti video pembelajaran, mencoba tools, membaca buku, atau mempraktikkan kemampuan tertentu melalui pekerjaan sehari-hari.

Namun, ada kondisi ketika belajar mandiri saja belum cukup.

Jika kompetensi yang ingin dikembangkan membutuhkan struktur pembelajaran, praktik yang terarah, atau evaluasi berdasarkan standar tertentu, pelatihan berbasis kompetensi dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai.

Di sinilah pentingnya menyesuaikan metode belajar dengan tujuan.

Jika tujuannya hanya mengenal sebuah topik, belajar mandiri mungkin sudah cukup.

Jika tujuannya membangun kompetensi yang lebih terstruktur dan membutuhkan pengakuan formal, seseorang dapat mempertimbangkan pelatihan dan sertifikasi yang relevan.

Untuk memahami bagaimana memilih skema sebelum mengikuti sertifikasi, ICC juga telah membahasnya secara khusus dalam artikel Cara Membaca Skema Sertifikasi Sebelum Mendaftar agar Tidak Salah Pilih.

Sertifikasi Sebaiknya Mengikuti Kebutuhan Kompetensi

Sertifikasi bukan sesuatu yang seharusnya dikumpulkan sebanyak mungkin.

Nilainya akan lebih terasa ketika sertifikasi tersebut memiliki hubungan dengan bidang pekerjaan dan kompetensi yang memang ingin dikembangkan.

Misalnya, seseorang yang bekerja di bidang analisis data dapat mempertimbangkan kompetensi yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan, validasi, dan penggunaan data. ICC sendiri memiliki program sertifikasi Data Analyst dengan unit kompetensi yang mencakup proses tersebut.

Sementara profesional non-teknis juga dapat memiliki kebutuhan sertifikasi yang berbeda. ICC mencatat bahwa sertifikasi tidak hanya relevan untuk bidang teknis, tetapi juga dapat berkaitan dengan marketing, HR, manajemen, administrasi, dan bidang non-teknis lainnya.

Karena itu, pilihan sertifikasi sebaiknya dimulai dari kebutuhan kompetensi, bukan sekadar dari sertifikasi yang sedang populer.

Kompetensi Juga Perlu Dipelihara

Ada satu hal yang sering terlupakan setelah seseorang mendapatkan sertifikasi atau menyelesaikan pelatihan.

Kompetensi tetap perlu dipelihara.

Dunia kerja terus berubah, sehingga pengetahuan dan keterampilan yang relevan hari ini dapat mengalami penyesuaian di kemudian hari.

Bahkan untuk sertifikasi tertentu, terdapat ketentuan mengenai masa berlaku dan proses perpanjangan. ICC juga telah membahas bahwa masa berlaku sertifikasi dapat berbeda tergantung jenis sertifikasi dan lembaga penerbitnya.

Karena itu, memiliki sertifikat sebaiknya tidak dianggap sebagai titik akhir.

Justru setelah mendapatkan pengakuan kompetensi, seseorang tetap perlu menggunakan, memperbarui, dan mengembangkan kemampuan tersebut.

Jangan Hanya Mengembangkan Skill karena Sedang Tren

Tren skill dapat menjadi petunjuk mengenai perubahan yang sedang terjadi.

Namun, tren bukan berarti kewajiban untuk mempelajari semuanya.

Jika setiap muncul teknologi atau istilah baru seseorang langsung merasa harus menguasainya, proses pengembangan kompetensi akan menjadi tidak fokus.

Lebih baik melihat tren dari perspektif pekerjaan.

Pertimbangkan apakah kemampuan tersebut dapat digunakan dalam pekerjaan.

Selanjutnya, lihat masalah apa yang dapat diselesaikan dengan kemampuan tersebut.

Pastikan kemampuan itu juga mendukung arah karier yang ingin dicapai.

Terakhir, pertimbangkan apakah kompetensi tersebut dapat melengkapi kemampuan yang sudah dimiliki.

Pertanyaan seperti ini membantu profesional memilah mana kemampuan yang benar-benar relevan dan mana yang cukup diketahui sebagai wawasan.

Kompetensi yang Baik Harus Bisa Digunakan

Pada akhirnya, ukuran penting dari kompetensi bukan hanya apakah seseorang pernah mengikuti pelatihan atau memiliki sertifikat.

Kemampuan tersebut perlu terlihat dalam cara seseorang menjalankan pekerjaannya.

Orang yang mempelajari analisis data, misalnya, perlu mampu menggunakan kemampuan tersebut untuk memahami informasi dan membantu pengambilan keputusan.

Orang yang mengembangkan kemampuan komunikasi perlu mampu menerapkannya ketika berhadapan dengan tim, pelanggan, atau pihak lain.

Begitu pula dengan kompetensi teknis.

Semakin sering kompetensi digunakan dalam situasi nyata, semakin besar kemungkinan kemampuan tersebut menjadi bagian dari kemampuan profesional seseorang.

Relevansi Kompetensi adalah Proses yang Berkelanjutan

Tidak ada titik ketika seseorang bisa mengatakan bahwa semua kompetensinya sudah selesai dan tidak perlu dikembangkan lagi.

Pekerjaan akan terus berubah.

Tanggung jawab dapat bertambah.

Teknologi dapat berganti.

Kebutuhan perusahaan dapat berkembang.

Karena itu, pengembangan kompetensi sebaiknya dipandang sebagai proses yang berjalan bersama perkembangan karier.

Profesional tidak harus selalu mengejar skill terbaru. Yang lebih penting adalah mampu mengenali perubahan, memahami kebutuhan, menemukan gap, lalu memilih cara belajar yang paling sesuai.

Dengan pola seperti itu, proses pengembangan kompetensi menjadi lebih terarah dan tidak sekadar mengikuti tren.

Bukan Sekadar Punya Skill, tetapi Tahu Kapan Skill Itu Perlu Diperbarui

Kompetensi yang relevan bukan berarti seseorang harus menguasai semua hal baru.

Relevansi berarti kemampuan yang dimiliki masih mampu mendukung seseorang dalam menjalankan pekerjaannya dan menghadapi tuntutan yang berkembang.

Karena itu, profesional perlu sesekali berhenti dan mengevaluasi kembali kemampuan yang dimiliki.

Identifikasi kompetensi yang masih relevan.

Kenali kemampuan yang mulai tertinggal.

Perhatikan pula kompetensi yang dibutuhkan dalam pekerjaan saat ini.

Dan kemampuan apa yang sebaiknya mulai dipersiapkan untuk langkah berikutnya?

Dari pertanyaan tersebut, pengembangan kompetensi menjadi lebih terarah.

Pelatihan, belajar mandiri, pengalaman kerja, maupun sertifikasi kemudian dapat dipilih sebagai alat untuk menutup gap yang memang diperlukan.

Pada akhirnya, bukan jumlah skill atau sertifikat yang paling menentukan.

Yang lebih penting adalah apakah kompetensi tersebut benar-benar relevan, dapat digunakan, dan terus berkembang mengikuti kebutuhan dunia kerja.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan kompetensi kerja yang relevan?

Kompetensi kerja yang relevan adalah pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang masih sesuai dengan tuntutan pekerjaan serta kebutuhan industri atau organisasi.

Apakah pengalaman kerja saja cukup untuk menjaga kompetensi tetap relevan?

Pengalaman tetap penting, tetapi tidak selalu cukup. Jika kebutuhan pekerjaan berubah, profesional juga perlu memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.

Bagaimana cara mengetahui kompetensi yang perlu dikembangkan?

Salah satu caranya adalah membandingkan kemampuan yang dimiliki dengan tanggung jawab dan kebutuhan pekerjaan saat ini maupun arah karier yang ingin dituju.

Apakah semua skill baru harus dipelajari?

Tidak. Pengembangan kompetensi sebaiknya diprioritaskan berdasarkan relevansi terhadap pekerjaan, kebutuhan industri, dan tujuan karier.

Apakah sertifikasi bisa membantu menjaga kompetensi tetap relevan?

Sertifikasi dapat menjadi salah satu bagian dari pengembangan kompetensi, terutama ketika skema yang dipilih memang sesuai dengan bidang dan kebutuhan profesional. Namun, sertifikasi sebaiknya tetap diikuti dengan penerapan dan pengembangan kemampuan secara berkelanjutan.

Leave a Comment

PENDAFTARAN SKEMA SERTIFIKASI​

Silakan isi formulir pendaftaran di bawah ini. Tim kami akan menindaklanjuti pendaftaran Anda secepat mungkin.

    This form uses Akismet to reduce spam. Learn how your data is processed.